sumber: pinterest.com
The Critique of Pure Reason atau bisa diartikan dengan kritik atas akal murni adalah salah satu buku yang paling terkenal dari Immanuel Kant. Immanuel Kant adalah filsuf besar yang gagasannya banyak mempengaruhi pemikiran filsafat setelahnya. Sejarah filsafat modern banyak berubah karena pemikiran dari Kant. The critique of pure reason merupakan buku yang berisi penyelidikan kritis Kant mengenai akal budi, dengan berdasarkan pada kognisi dimana ia berusaha mencapainya tanpa bantuan pengalaman, hasil pemikirannya ini adalah jawaban mengenai kemungkinan dan kemustahilan metafisika, penentuan awal pengetahuan, serta tingkat dan batas ilmu itu sendiri. Pembahasan utama didalam buku ini adalah konsep analisis transcendental. Didalam buku ini, kant juga banyak memberikan kritikan-kritikan terhadap gagasan para filsuf besar yang berpengaruh pada zamannya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena berisi pemikiran-pemikiran dan kritisisme Kant, namun untuk pemula seperti saya, buku ini sangat sulit untuk dipahami, bukan hanya karna penggunaan bahasa asing didalamnya, namun juga karna banyak menggunakan bahasa analog yang mempunyai makna khusus. Untuk memahami sedikit isi dari buku ini, pembaca harus membacanya berulang-ulang dan tidak lupa juga diperlukan bantuan kamus filsafat untuk mengetahui bahasa-bahasa filsafat. Selain itu, pembaca juga bisa membaca referensi lain berkaitan dengan buku The Critique of Pure Reason karya Immanuel Kant ini.
Sebelum membahas tentang apa itu konsep transcendental, Kant menuliskan beberapa point-point penting untuk dibahas terlebih dahulu. Point pertama yang disampaikan didalam pendahuluan buku ini adalah tentang perbedaan pengetahuan murni dan pengetahuan empiris. Tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan kita adalah dimulai dari pengalaman. Namun meskipun begitu, bukan berarti semua pengetahuan muncul karena pengalaman. Seperti halnya pengetahuan kita tentang waktu, ini tidak dimulai dari pengalaman melainkan dimulai dengan waktu. Kant mengatakan bahwa sangat mungkin pengetahuan empiris kita adalah gabungan yang kita terima melalui kesan-kesan inderawi, dimana pengetahuan muncul dari dirinya sendiri. Pengetahuan Inilah yang dinamakan dengan apriori, apriori berarti pengetahuan yang bukan berasal dari pengalaman dan kesan inderawi. Namun kata apriori sendiri belum bisa dikatakan memadai untuk mewakili definisi tersebut. Ada kemungkinan-kemungkinan lain ketika pengetahuan itu sendiri muncul tidak secara langsung dari pengalaman. Oleh karena itu, muncul lah istilah pengetahuan apriori. Ada pengetahuan apriori murni dan yang tidak murni. Pengetahuan apriori murni berarti pengetahuan yang tidak disertai dengan unsur-unsur empiris. Suatu konsep dikatakan sebagai pengetahuan murni jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan terjadi langsung pada kenyataan. Pengetahuan murni dan pengetahuan empiris sendiri tidak bisa dibedakan secara mutlak antara satu dan lainnya, karena keduanya tidak terpisahkan satu sama lain. Hanya kebutuhan dan universalitas ketat yang dapat diasumsikan sebagai alat ukur pembeda antara pengetahuan murni dan pengetahuan empiris.
Selanjutnya perbedaan antara penilaian analitis dan sintetis. Penilaian analitis adalah penilaian yang .memiliki hubungan dengan predikat dimana subjek terkadang kita pikirkan melalui identitas; dan kadang kita pikirkan tanpa identitas. Contohnya ketika saya mengatakan “semua tubuh memanjang”, maka saya tidak perlu melampaui konsepsi tubuh untuk menemukan predikat tersebut, saya hanya perlu menyadari beberapa sifat terkait konsep tubuh tersebut. Sedangkan penilaian sintetis, adalah penilaian yang berlandaskan dari pengalaman. Contohnya ketika saya mengatakan “semua tubuh itu berat”. Kant juga mengenalkan istilah sintesis apriori yang menjadi jembatan antara empirisme dan rasionalisme. Sintesis apriori adalah sintesis yang permyataannya bergantung pada suatu pengalaman tertentu tetapi sebenarnya pernyataan lain sudah ada sebelumnya. Syarat pembentukan putusan sintesis apriori adalah perlunya putusan memiliki forma (form) dan materi (matter). Forma mewakili unsur universal dan niscaya, sedangkan materi mewakili data empiris.
Kant menyajikan putusan sintesis apriori ini kedalam tiga bagian yaitu estetika transcendental, analitika transcendental, dan dialektika transcendental.
Pada bagian estetika transcendental, Kant menyelidiki unsur-unsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah subjektif, aritmatika dan geometri kemudian didasarkan pada ruang dan waktu. Berikut sifat-sifat Ruang menurut Kant berdasarkan dari konsepsi tentang Geometri. Ruang tidak mempresentasikan setiap sifat objek sebagai sesuatu yang ada dalam diri mereka, juga tidak mempresentasikan mereka dalam hubungan mereka satu sama lain, Ruang tidak bersifat apriori, Ruang hanyalah bentuk dari semua fenomena dari indera eksternal, yaitu kondisi subjektifitas dan sesibilitas. Jika Ruang bersifat tidak apriori, maka sebaliknya waktu adalah kondisi formal apriori dari semua fenomena,waktu bukanlah sesuatu yang hidup dalam dirinya sendiri atau yang melekat pada benda-benda sebagai sebuah ketentuan objektif, karena itu waktu tetap ada ketika abstraksi dibuat dari kondisi subjektif dari intuisi tentang benda. Maka dapat diartikan bahwa waktu adalah bentuk perasaan internal yang berasal dari intuisi diri.
Sedangkan pada bagian analitika transcendental, Kant menyelidiki ke dalam pengetahuan intelektual. Obyeknya adalah dunia fisik, dan ruang lingkupnya adalah membuktikan “fisika murni” (mekanik) sebagai ilmu yang sempurna. Analitik transendetal adalah diseksi seluruh pengetahuan apriori kita ke dalam unsur-unsur kognisi murni dalam pemahaman. Seluruh bagian dari analitik transcendental ini adalah terdiri dari dua fakultas, yaitu berisi konsepsi dan prinsip-prinsip umum. Prinsip-prinsip sintetis dalam pemahaman murni tidak hanya kemampuan mental dalam memahami aturan namun merupakan sumber dari prinsip-prinsip dimana segala sesuatu dapat direpresentasikan kepada kita sebagai objek yang yang tunduk pada aturan. Semua fenomena dalam hal bentuk mengandung intuisi dalam ruang dan waktu, yang terletak secara apriori didasar semua hal tanpa kecuali. Persepsi suatu objek sebagai fenomena hanya mungkin melalui kesatuan sintesis dari berbagai intuisi inderawi yang diberikan, dimana semua fenomena adalah kuantitas yang berjumlah banyak, karena sebagai intuisi dalam ruang dan waktu. Persepsi adalah kesadaran yang berisi unsur penginderaan atau kesadaran empiris. Objek persepsi atau fenomena hanya merupakan intuisi formal seperti ruang dan waktu. Oleh karenanya fenomena sebagai objek persepsi tidaklah intuisi murni. Intuisi murni berarti sepenuhnya merupakan produk dari pikiran itu sendiri, dengan demikian maka dapat dikenali dalam diri mereka sendiri. Pengalaman adalah sebuah kognisi dari objek-objek melalui persepsi, pengalaman adalah sintesis dari persepsi. Oleh karena itu hubungan berbagai eksistensi tentu direpresentasikan dalam pengalaman tidak seperti yang disatukan dalam waktu, tetapi secara objektif dalam waktu.
Pada bagian dialektika transcendental, yaitu tentang realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan dunia. Semua pengetahuan kita dimulai degan indera, hasil dari pemahaman, dan berakhir dengan akal budi.
Secara garis besar, seperti yang dituangkan Kant didalam kata pengantar di edisi pertama bahwa pengetahuan dari akal pikiran manusia bersifat alami dan tidak bisa ditolak sebagaimana hal ini muncul dengan sendirinya. Tidak ada jawaban dari pertanyaan tentang ini, sebagaimana mereka transend kesetiap fakultas dipikiran. Menurut Kant, transenden adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman. Transenden memiliki makna yang berbeda dengan transcendental. Apa itu transcendental menurut Kant? Transcendental adalah syarat-syarat yang memungkinkan pengetahuan yang inderawi, yakni struktur a priori pikiran manusia itu sendiri. Kant mengemukakan bahwa struktur apriori tidak perlu pembelajaran karna sudah ada sejak awal secara alami dan menjadi pra asumsi untuk kita menyerap knowledge. Apriori artinya tidak didapat karna pengalaman, apriori memungkinkan terjadinya pengalaman. Hal ini sangat bertolak belakang dengan teori empirisme David Hume. Kant berpendapat bahwa a priori sintetik adalah hal yang sangat esensial karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. Sehingga pertanyaannya adalah bagaimana pengetahuan itu mungkin? Bagaimana struktur didalam pemikiran manusia yang memungkinkan pengetahuan itu terjadi? Inilah pertanyaan transcendental yang ingin diteliti oleh Immanuel Kant.
Menurut Kant, Pengetahuan hanya mungkin jika ada objek inderawi yang terberi kepada kita dengan kategori adanya ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah a priori, ruang dan waktu menurut Kant bukan yang terdapat pada jam dan kalender, melainkan ruang dan waktu yang adanya dipikiran kita. Kita bisa mengatakan “meja ini besar” besar adalah ruang, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan kata “besar” jika tidak ada kata “besar” dipikiran kita. Begitu pula dengan waktu, bagaimana kita dapat mengandaikan kategori ruang dan waktu, ini pertanda bahwa sudah ada ruang dan waktu dipikiran kita. Jika objek tersebut telah terberi kepada kita, itu bukan pengetahuan atau pengalaman. Ini masih kesan inderawi yang harus diproses oleh pikiran kita. Poin utama dari pemikiran Kant tentang konsep transcendental ini adalah, menurut Kant ada 12 kategori transcendental, dimana kategori ini adalah syarat-syarat pengetahuan itu mungkin. Diantaranya adalah kategori kualitas, kuantitas, jumlah, kesatuan, dan kategori lainnya. Bagaimana Kant bisa menjelaskan terkait 12 syarat pengetahuan serta ruang dan waktu adalah dengan mengandaikannya. Dimana untuk mengetahui bagaimana pengetahuan itu mungkin maka harus diterima 12 syarat tersebut. Meskipun ke 12 syarat ini tidak bisa dibuktikan dengan observasi, mau tidak mau harus menggunakan syarat-syarat ini untuk mengetahui bagaimana pengetahuan itu mungkin. Inilah yang dinamakan pengetahuan transcendental.
Kemudian bagaimana tanggapan Kant mengenai Tuhan? Kant berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan adalah tidak mungkin. Kita tidak bisa berbicara mengenai Tuhan seakan-akan Tuhan adalah objek empiris yang bisa dilihat. Namun bukan berarti Kant menyangkal keberadaan Tuhan. Kant juga mengkritisi filsuf-filsuf sebelumnya yang berupaya untuk membuktikan adanya Tuhan dalam filsafat. Pengetahuan kita adalah terbatas, maka adalah sebuah penghinaan jika kita mencoba mengetahui Tuhan sebagaimana objek Empiris.
Kesimpulan dari buku ini adalah bagaimana Kant berusaha mengetahui struktur bagaimana pengetahuan itu mungkin dengan a priori. Konsep yang coba dikenalkannya disebut juga dengan konsep transendental. Namun meskipun begitu, ada hal-hal yang tidak bisa dipikirkan oleh akal yaitu pengetahuan tentang Tuhan dan sebagainya. Menurut Kant pengetahuan tentang Tuhan adalah tidak mungkin, karna pikiran manusia adalah terbatas. Pengetahuan kita terbatas sehingga tidak akan mencapai realitas metafisik (numena).

Komentar
Posting Komentar