Secara etimologi, kata filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah yang diambil dari bahasa Yunani yaitu Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dari kata inilah lahir kata philosophy dalam bahasa Inggris, yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”. Sedangkan secara terminology, filsafat memiliki arti yang bermacam-macam diantaranya menurut Plato (477-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli. Sejalan dengan hal itu, Aristoteles (381-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Dari kedua pendapat filsuf besar tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang apa yang ada disebalik yang ada. Al-Farabi (870-950 M), seorang filsuf muslim juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada (al-ilmu bil maujudat bi ma hiya al-maujudat). Sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran, mengerahkan segala pemikiran dan usaha untuk mencari apa yang terdapat disegala yang ada sehingga mencapai pengetahuan yang sebenarnya.
Setelah memahami makna dari kata filsafat selanjutnya kita perlu memahami hakikat dari penilaian, khususnya penilaian dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Penilaian atau assessment, menurut Depdikbud adalah suatu kegiatan yang berisi mengenai berbagai informasi yang berkesinambungan dan menyeluruh mengenai proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai siswa. Penilaian bersifat menyeluruh, mencakup seluruh aspek dalam pembelajaran seperti aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai. Artinya dalam penilaian bukan hanya berisi tentang pemahaman siswa tentang suatu materi saja, lebih dari itu penilaian mencakup seluruh aspek dalam pembelajaran. Menurut Gronlund dalam Arifin (2011), Penilaian merupakan serangkain kegiatan yang sistematis mulai dari pengumpulan data, analisis, dan interpretasi data/informasi mengenai sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran. Artinya penilaian merupakan proses yang sistematis untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai nilai, serta tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran untuk pengambilan keputusan dengan kriteria dan pertimbangan tertentu dalam membuat keputusan tentang nilai, kenaikan kelas, dan kelulusan peserta didik. Pengambilan keputusan harus senantiasa mengarahkan peserta didik untuk melakukan perbaikan dalam pencapaian hasil belajar. Dari berbagai definisi yang telah disebutkan, dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat penilaian pendidikan Bahasa inggris adalah pengkajian dan pemikiran secara mendalam mengenai penilaian dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk menemukan indikator yang menyebabkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan dari pembelajaran tersebut. Sehingga nantinya dapat dijadikan bahan kajian berikutnya dalam melaksanakan pembelajaran. Pembahasan mengenai filsafat penilaian pendidikan Bahasa inggris sangat menarik untuk dibahas dan tentunya tidak terlepas dari landasan-landasan yang digunakan dalam penelaahan filsafat mengenai ontology, epistemology dan aksiologi.
Tujuan pembelajaran Bahasa Inggris seperti yang disebutkan dalam Kurikulum 13 yaitu; (1) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa inggris baik lisan maupun tulis. Kemampuan tersebut meliputi mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing); (2) Menumbuhkan kesadaran akan hakikat dan pentingya bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar; (3) mengembangkan pemahaman keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya. Terkait dengan tujuan pembelajaran Bahasa Inggris ini, dalam melakukan penilaian guru harus memahami perbedaan penilaian antara kemampuan skill writing, speaking, listening dan reading. Dengan pembelajaran berorientasi pada pengembangan keterampilan berbahasa, sistem penilaian dalam pembelajaran bahasa Inggris seharusnya juga menjadikan keterampilan berbahasa sebagai dasar untuk pengembangan penilaiannya. Dalam penilaian, yang penting ialah guru menilai penggunaan bahasa untuk melihat apakah kompetensi komunikatif sudah tercapai atau belum. Bachman (1991) memberi istilah kompetensi komunikatif dengan istilah kecakapan berbahasa (language ability), hal inilah yang seharusnya diukur dalam tes berbahasa. Sehingga, dalam pembelajaran diarahkan untuk penguasaan keempat ketrampilan berbahasa tersebut agar siswa mampu berkomunikasi. Contohnya, untuk ketrampilan speaking, pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kompetensi peserta didik melakukan tindak tutur seperti membuka percakapan, meminta tolong, menyapa, mengungkapkan kegembiraan, meminta maaf dan ekspresi lainnya dalam Bahasa inggris dengan konteks tertentu. Penilaian Bahasa seharusnya berdasarkan apakah kompetensi komunikatif sudah tercapai atau belum.
Dalam pelaksanaannya, banyak guru masih melakukan penilaian berdasarkan unsur- unsur Bahasa (language forms) bukan berdasarkan fungsi Bahasa (language functions) yang seharusnya memiliki proporsi sama, tugas-tugas penilaian yang diberikan cenderung dalam konteks kelas yang seharusnya konteks sehari-hari di mana bahasa target banyak digunakan, kegiatan pembelajaran dan penilaian cenderung terpisah sehingga penilaian dilakukan terkesan formal.
Meskipun siswa di Indonesia mempelajari Bahasa Inggris sejak sekolah dasar hingga di perguruan tinggi, Bahasa inggris sebagai Bahasa asing masih sulit untuk dikuasai. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, contohnya Bahasa inggris yang hanya dipelajari di sekolah namun tidak dipraktekkan dikehidupan sehari-hari. Pembelajaran disekolah terlalu terpaku pada text book namun tidak dikaitkan denga konteksnya. Siswa yang hafal banyak vocabulary tidak menjamin bahwa siswa tersebut mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, siswa yang menguasai tenses dan tata Bahasa dalam Bahasa inggris tidak menjamin pula bahwa siswa tersebut mampu menggunakannya dengan tepat. Jadi untuk menguasai Bahasa sehingga menjadi kompetensi yang komunikatif, seorang pembelajar harus menggunakan Bahasa tersebut dikehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran Bahasa inggris era ini, guru bukan lagi sebagai centered of learning, dimana guru sebagai sumber utama dalam pembelajaran. Didalam kelas, guru adalah sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Guru harus mampu memfasilitasi siswa untuk aktif didalam pembelajaran. Sedangkan diluar kelas seiring dengan perkembangan yang ada, siswa dapat dengan mudah mengakses sumber dan media belajar dari internet.
Dalam belajar bahasa inggris, kosakata (vocabulary) sangat memiliki peranan penting. Semakin banyak kosakata yang kita miliki akan semakin mudah kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam bahasa itu dan semakin mudah pula kita dapat mengemukakan isi fikiran kita dalam bahasa itu secara lisan maupun tulisan. Sebaliknya, semakin sedikit kosakata bahasa Inggris yang kita miliki, akan semakin sulit kita memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dalam bahasa Inggris dan akan semakin sulit pula kita mengungkapkan isi fikiran dalam bahasa Inggris, secara lisan maupun tulisan. Vocabulary adalah masalah yang sangat signifikan bagi siswa. Kebanyakan orang berpendapat bahwa vocab harus dihafal, namun yang sebenarnya adalah vocab itu tidak harus dihafalkan melainkan dipahami. Pada awalnya kita hanya mengetahui kata ini artinya itu, kata itu artinya ini. Kita tidak lebih memahami makna sebenarnya. Misalnya kata “look” yang kita tau look itu artinya melihat. Tapi bila ditambahkan kata lain dibelakang atau didepannya look itu bisa berubah total maknanya. Misalnya kata “look” apabila diikuti kata “for” menjadi “look for” maka artinya menjadi “mencari”. Maka dari contoh kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa kosa kata bukanlah hanya sekedar untuk dihapal akan tetapi untuk dipahami dan dimengerti dalam penggunaannya di konteks yang tepat dalam situasi yang tepat.
Pada akhirnya tujuan dari pembelajaran Bahasa adalah untuk berkomunikasi secara aktif, baik secara lisan maupun tulisan sesuai konteksnya. Contohnya setelah mengetahui dan memahami ekspresi meminta maaf dalam Bahasa inggris, siswa mampu mempraktekkanya dikehidupan sehari-hari berdasarkan situasi yang terjadi. Apakah dalam situsi formal atau informal, atau apakah diucapkan kepada yang lebih tua atau yang sebaya.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. (2011). Evaluasi Pembelajaran (prinsip, teknik, prosedur). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Bachman, L.F. (1991). Fundamental Considerations in Language Testing. Oxford: Oxford University Press

Komentar
Posting Komentar